- IHSG Anjlok & Trading Halt – IHSG turun 6,12% ke 6.076,08, memicu trading halt selama 30 menit, dengan sektor teknologi rontok 12,4%.
- Tekanan Ekonomi & Investor Asing – Aksi jual asing capai Rp 26,04 triliun, diperburuk oleh defisit APBN, utang pemerintah, kredit macet, dan pelemahan rupiah.
- Sentimen Global & Prospek IHSG – Ketidakpastian The Fed membuat pasar tertekan; IHSG berisiko turun ke 6.000, tapi bisa pulih jika ekonomi stabil dan dana asing kembali masuk.
Pasar modal Indonesia mengalami tekanan berat pada Selasa (18/3/2025), dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas sebesar 395,8 poin atau 6,12% ke level 6.076,08 di penutupan sesi pertama. Anjloknya IHSG ini bahkan memicu trading halt selama 30 menit oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah penurunan indeks lebih dari 5%.
Kondisi Pasar: Saham-Saham Rontok
Selama sesi pertama, transaksi di bursa mencatatkan 16,61 miliar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp 10,3 triliun dari 893.608 kali transaksi. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 67 saham yang menguat, sementara 616 saham mengalami koreksi dan 116 saham stagnan.
Saham blue chip juga tak luput dari tekanan jual. Indeks LQ45 terjun 5,3%, Investor33 melemah 4,8%, dan JII jatuh 6,3%. Semua sektor saham terkoreksi dengan sektor teknologi memimpin kejatuhan sebesar 12,4%, diikuti oleh sektor barang baku (-9,8%), energi (-6,2%), properti (-5,3%), serta barang konsumsi non-primer (-5,3%).
Sementara itu, indeks saham Asia justru bergerak menguat. Shanghai (China) naik 0,01%, Hang Seng (Hong Kong) melonjak 1,7%, Nikkei (Jepang) menguat 1,3%, dan Straits Times (Singapura) naik 1,1%.
Mengapa IHSG Anjlok?
Menurut Hendra Wardana, analis sekaligus Founder Stocknow.id, penurunan drastis IHSG terjadi akibat tekanan jual besar-besaran yang dilakukan investor. Salah satu pemicunya adalah aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp 26,04 triliun sejak awal 2025, dengan Rp 1,77 triliun terjual hanya dalam satu pekan terakhir. Hal ini menunjukkan menurunnya kepercayaan investor asing terhadap pasar Indonesia.
Selain itu, defisit APBN yang meningkat juga menjadi faktor pemberat. Hingga Februari 2025, defisit APBN mencapai Rp 31,2 triliun dengan pembayaran bunga utang mencapai Rp 79,3 triliun dalam dua bulan pertama. Beban utang yang membengkak ini berpotensi menghambat belanja produktif pemerintah dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Dari sektor riil, maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) serta meningkatnya rasio kredit macet (non-performing loan / NPL) ke level 2,17% pada Januari 2025 dari 1,9% di 2024 menjadi indikasi pelemahan daya beli masyarakat. Melemahnya kurs rupiah juga memberikan tekanan tambahan, terutama bagi perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS.
Ada juga kemungkinan bahwa Danantara menjadi salah satu penyebab investor asing menarik diri
Saham-Saham yang Paling Tertekan
Saham-saham berkapitalisasi besar ikut terseret dalam kejatuhan ini. Saham DCII anjlok 20%, TPIA turun 19,92%, BREN melemah 15,46%, sementara saham perbankan seperti BMRI turun 5,98%, BBRI melemah 4,44%, dan BBNI terkoreksi 5,08%. Pelemahan saham perbankan dan konglomerasi dengan bobot besar dalam indeks membuat IHSG semakin sulit bertahan dari tekanan jual.
Prospek IHSG ke Depan
Secara teknikal, IHSG masih dalam tren bearish dan berpotensi menguji level psikologis 6.000 dalam beberapa hari ke depan. Namun, ada peluang pemulihan jika beberapa faktor utama membaik, seperti stabilitas kebijakan ekonomi pemerintah, kepastian arah suku bunga global, serta arus masuk kembali dana asing ke pasar saham Indonesia.
Hendra menambahkan bahwa kondisi saat ini masih dalam fase penyesuaian dan investor menunggu kejelasan lebih lanjut terkait kondisi makro ekonomi. “Jika kebijakan ekonomi lebih stabil dan prospek keuntungan lebih menarik, bukan tidak mungkin dana asing akan kembali masuk, membawa IHSG kembali ke jalur pemulihan,” ujarnya.
Dari sisi eksternal, ketidakpastian kebijakan The Fed terkait suku bunga masih menjadi faktor utama yang membayangi pasar. Jika inflasi AS tetap tinggi, maka pemangkasan suku bunga bisa tertunda, yang membuat pasar saham global, termasuk Indonesia, menjadi kurang menarik bagi investor.
Pasar saham AS sendiri telah kehilangan nilai hingga US$5,28 triliun dalam tiga minggu terakhir, memberikan tekanan tambahan bagi pasar saham Asia dan negara berkembang seperti Indonesia.
Kesimpulan
Kejatuhan IHSG lebih dari 6% mencerminkan kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja. Aksi jual investor asing, defisit APBN, meningkatnya kredit macet, serta pelemahan sektor perbankan menjadi kombinasi faktor yang menekan pasar. Meski demikian, kondisi ini bersifat siklikal. Dengan kebijakan yang lebih stabil dan daya tarik investasi yang lebih baik, peluang pemulihan IHSG tetap terbuka di masa mendatang.
Butuh perencenaan investasi? Simulasikan investasi Anda menggunakan kalkulator compounding interest