Gaji naik seharusnya membuat kondisi keuangan terasa lebih lega. Namun, kenyataannya tidak selalu begitu. Pendapatan bertambah, tetapi menjelang tanggal 20 saldo rekening tetap saja menipis.
Misalnya, sebelumnya kamu menerima gaji bersih Rp6 juta per bulan. Setelah mendapat kenaikan, penghasilan menjadi Rp7,5 juta. Secara teori ada tambahan Rp1,5 juta yang bisa ditabung, tetapi beberapa bulan kemudian jumlah uang yang tersisa ternyata tidak jauh berbeda dari sebelumnya.
Kenapa bisa terjadi?
Masalahnya sering kali bukan sekadar karena gaji terlalu kecil. Saat penghasilan meningkat, pengeluaran juga perlahan ikut naik. Ada biaya hidup yang bertambah, cicilan baru, kebiasaan belanja yang berubah, sampai pengeluaran kecil yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan.
Contoh nominal dalam artikel ini merupakan simulasi untuk memudahkan perhitungan. Kondisi keuangan setiap orang tentu berbeda, tetapi pola yang terjadi sering kali mirip: tambahan pendapatan dengan cepat berubah menjadi tambahan pengeluaran.
Kenaikan gaji sering langsung diikuti kenaikan gaya hidup
Salah satu penyebab paling umum adalah gaya hidup yang ikut meningkat setelah pendapatan bertambah.
Saat masih bergaji Rp6 juta, misalnya, total pengeluaran bulanan sekitar Rp5,3 juta sehingga masih ada Rp700 ribu yang bisa disimpan.
Setelah gaji naik menjadi Rp7,5 juta, pengeluaran ikut meningkat menjadi Rp6,9 juta. Akibatnya, uang yang tersisa justru hanya Rp600 ribu.
Artinya, pendapatan memang bertambah Rp1,5 juta, tetapi pengeluaran naik Rp1,6 juta.
Kondisi seperti ini bisa terjadi tanpa disadari. Setelah merasa penghasilan lebih besar, seseorang mungkin mulai pindah ke tempat tinggal yang lebih mahal, lebih sering makan di luar, mengganti ponsel, mengambil cicilan kendaraan, atau membeli barang yang sebelumnya dianggap terlalu mahal.
Masing-masing keputusan mungkin terlihat masih terjangkau. Namun, ketika beberapa pengeluaran baru muncul sekaligus, seluruh kenaikan gaji bisa habis untuk membiayai gaya hidup baru.
Karena itu, gaji yang lebih besar belum tentu membuat kemampuan menabung ikut meningkat.
Pengeluaran kecil yang berulang bisa menghabiskan hampir satu juta rupiah
Masalah berikutnya datang dari pengeluaran kecil yang terasa tidak terlalu berarti ketika dilakukan satu per satu.
Membeli kopi Rp25 ribu mungkin tidak terasa mahal. Begitu juga biaya pesan makanan atau langganan aplikasi Rp50 ribu sampai Rp100 ribu.
Namun, coba hitung totalnya selama satu bulan.
Sebagai contoh:
- Kopi atau minuman Rp25 ribu sebanyak 20 kali: Rp500 ribu
- Biaya pesan makanan Rp35 ribu sebanyak 8 kali: Rp280 ribu
- Langganan aplikasi yang jarang digunakan: Rp150 ribu
Totalnya mencapai Rp930 ribu per bulan.
Jika pola tersebut berlangsung selama satu tahun, jumlahnya bisa mencapai Rp11,16 juta.
Tentu saja angka tersebut hanya contoh, bukan berarti semua pengeluaran kecil harus dihentikan. Masalah utamanya adalah ketika pengeluaran dilakukan berulang kali tanpa pernah melihat berapa besar totalnya.
Cara sederhana untuk mengetahuinya adalah memeriksa riwayat transaksi selama 30 hari terakhir. Tandai pengeluaran yang sering muncul, tidak direncanakan, atau sebenarnya tidak terlalu memberikan manfaat.
Tidak perlu langsung menghilangkan semua hiburan. Mulailah dari satu atau dua pengeluaran yang paling mudah dikurangi.
Tabungan sering kalah karena selalu menunggu uang sisa
Banyak orang menabung dengan pola seperti ini: menerima gaji, membayar tagihan, memenuhi kebutuhan, membeli beberapa hal yang diinginkan, lalu menabung jika masih ada uang tersisa.
Masalahnya, uang sisa sering kali tidak pernah benar-benar ada.
Selalu ada pengeluaran tambahan yang muncul. Bulan ini mungkin servis kendaraan, bulan berikutnya undangan pernikahan, kemudian tagihan tahunan atau kebutuhan rumah tangga yang tidak direncanakan.
Akibatnya, nominal tabungan berubah-ubah dan terkadang menjadi nol.
Cara yang lebih mudah dikendalikan adalah membalik urutannya. Sisihkan tabungan segera setelah menerima gaji, bukan menunggu akhir bulan.
Misalnya, dari kenaikan gaji sebesar Rp1,5 juta, pembagiannya bisa dibuat seperti berikut:
- Rp750 ribu untuk dana darurat atau investasi jika dana darurat sudah cukup
- Rp450 ribu untuk membayar utang atau mengejar tujuan keuangan tertentu
- Rp300 ribu untuk meningkatkan kenyamanan hidup
Pembagian tersebut tentu hanya contoh. Komposisinya bisa berbeda tergantung cicilan, tanggungan keluarga, kebutuhan sehari-hari, dan kondisi dana darurat.
Yang lebih penting adalah memberikan tujuan kepada tambahan gaji sejak awal. Dengan begitu, uang tidak langsung bercampur dengan saldo yang digunakan untuk belanja sehari-hari.
Cicilan baru bisa membuat kenaikan gaji hampir tidak terasa
Kenaikan gaji juga sering menjadi alasan untuk mengambil cicilan baru.
Karena penghasilan bertambah, cicilan Rp1 juta atau Rp1,2 juta per bulan mungkin terasa masih aman. Padahal, keputusan tersebut bisa langsung menghabiskan sebagian besar kenaikan pendapatan.
Misalnya, gaji bersih naik Rp1,5 juta tetapi kemudian kamu mengambil cicilan baru Rp1,2 juta per bulan.
Secara nominal, penghasilan memang bertambah Rp1,5 juta. Namun, ruang keuangan yang benar-benar bertambah hanya Rp300 ribu.
Itu pun belum menghitung biaya lain yang mungkin muncul setelah membeli barang tersebut, seperti bunga, biaya administrasi, asuransi, bahan bakar, perawatan, atau biaya penggunaan lainnya.
Jika sebelumnya masih ada cicilan kartu kredit atau paylater, tambahan gaji bahkan bisa habis sepenuhnya.
Karena itu, sebelum mengambil cicilan baru, lihat total kewajiban bulanan secara keseluruhan. Jangan hanya melihat apakah satu cicilan baru masih bisa dibayar.
Kamu juga bisa membaca panduan tentang cara mengatur gaji agar selamat di akhir bulan untuk membantu memetakan pemasukan dan pengeluaran setiap bulan.
Cara menghentikan pola gaji naik tetapi tidak punya tabungan
Tidak perlu langsung memasang target menabung yang terlalu besar. Sistem keuangan yang sederhana tetapi konsisten biasanya lebih mudah dipertahankan.
Beberapa langkah berikut bisa dicoba:
- Pertahankan gaya hidup lama selama 90 hari. Setelah mendapatkan kenaikan gaji, usahakan biaya hidup tetap berada di level sebelumnya selama tiga bulan pertama. Gunakan periode tersebut untuk melihat berapa besar tambahan uang yang sebenarnya tersedia.
- Otomatiskan tabungan pada hari gajian. Atur transfer otomatis ke rekening terpisah begitu gaji masuk. Dengan cara ini, uang tabungan tidak bercampur dengan saldo yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
- Periksa pengeluaran setiap minggu. Tidak perlu mencatat setiap transaksi secara berlebihan. Cukup lihat kategori pengeluaran terbesar dan cari satu atau dua biaya yang bisa dikurangi.
- Prioritaskan dana darurat dan utang berbunga tinggi. Setelah arus kas lebih stabil, barulah sebagian pendapatan bisa diarahkan ke investasi sesuai tujuan dan toleransi risiko.
Untuk menentukan berapa besar dana darurat yang dibutuhkan, kamu bisa membandingkan pengeluaran wajib bulanan dengan jumlah tabungan yang sudah dimiliki. Artikel tentang patokan dana darurat tiga sampai enam kali pengeluaran dapat digunakan sebagai referensi awal.
Kamu juga dapat memanfaatkan panduan edukasi keuangan dari OJK serta referensi kebijakan moneter dari Bank Indonesia untuk memahami berbagai konsep dasar terkait pengelolaan keuangan dan daya beli.
Sumber tersebut tentu bukan pengganti nasihat keuangan pribadi, tetapi dapat menjadi referensi tambahan untuk memahami istilah dan konsep yang berkaitan dengan keuangan.
Pada akhirnya, ketika gaji naik tetapi tabungan tetap tidak bertambah, hal pertama yang perlu diperiksa bukan hanya besar penghasilannya, tetapi ke mana tambahan uang tersebut pergi.
Jika setiap kenaikan gaji langsung memiliki tujuan sejak hari pertama, sebagian pendapatan tambahan bisa berubah menjadi dana darurat, pelunasan utang, tabungan, atau investasi. Dengan begitu, kenaikan gaji benar-benar membantu memperbaiki kondisi keuangan, bukan sekadar membiayai pengeluaran baru.

