Article
Bisnis Kecil
Harga Jual
Modal Usaha
Umkm
Usaha

Cara Menentukan Harga Jual Produk UMKM Baru Agar Bisnis Tidak Rugi

Menentukan harga jual produk UMKM memang tidak bisa asal tebak. Apalagi bagi pelaku usaha yang baru merintis bisnis. Terkadang, harga produk ditentukan hanya dengan melihat harga pesaing atau menambahkan sedikit keuntungan dari biaya bahan baku. Padahal, cara seperti ini bisa membuat bisnis terlihat ramai pembeli, tetapi keuntungan yang didapat ternyata sangat tipis, bahkan merugi.

Supaya hal tersebut tidak terjadi, kamu perlu memahami berapa biaya sebenarnya untuk menghasilkan dan menjual satu produk. Mulai dari bahan baku, tenaga kerja, hingga biaya operasional yang sering luput dari perhitungan.

Kabar baiknya, menentukan harga jual tidak harus menggunakan perhitungan yang rumit. Dengan memahami beberapa komponen biaya dan menerapkan rumus sederhana, kamu bisa menetapkan harga yang masuk akal bagi pelanggan sekaligus tetap menguntungkan bisnis.

Tiga Komponen Biaya yang Perlu Dihitung Sebelum Menentukan Harga Jual

Sebelum memasang harga pada produk, pastikan kamu sudah menghitung seluruh biaya yang dikeluarkan. Jangan hanya berpatokan pada bahan baku, karena ada pengeluaran lain yang ikut menentukan besar kecilnya keuntungan.

Setidaknya, ada tiga komponen utama yang perlu diperhatikan.

1. Biaya Bahan Baku per Produk

Biaya bahan baku merupakan pengeluaran untuk semua bahan yang digunakan dalam proses pembuatan produk. Cara menghitungnya cukup sederhana, yaitu catat jumlah bahan yang digunakan, lalu kalikan dengan harga belinya.

Sebagai contoh, kamu menjalankan usaha roti. Untuk membuat satu roti, dibutuhkan 250 gram tepung terigu. Jika harga tepung Rp14.000 per kilogram, biaya tepung yang digunakan adalah Rp3.500.

Kemudian, kamu juga menggunakan 50 gram gula dengan harga Rp7.000 per kilogram. Artinya, biaya gula untuk satu roti adalah Rp350.

Jadi, total biaya tepung dan gula mencapai Rp3.850 per roti.

Jangan lupa masukkan bahan tambahan lainnya, seperti mentega, telur, ragi, dan bahan pelengkap. Sekalipun jumlahnya terlihat kecil, biaya tersebut tetap perlu dihitung agar modal yang dikeluarkan tidak terlewat.

2. Biaya Tenaga Kerja

Meskipun kamu mengerjakan semuanya sendiri, waktu dan tenaga yang digunakan untuk membuat produk tetap memiliki nilai ekonomi.

Bayangkan kamu membutuhkan waktu 15 menit untuk membuat satu botol saus. Jika nilai tenaga kerja yang kamu tetapkan adalah Rp4.000 per jam, biaya tenaga kerja untuk satu botol adalah:

15 menit ÷ 60 menit × Rp4.000 = Rp1.000

Dengan begitu, biaya tenaga kerja per botol adalah Rp1.000.

Mengapa biaya ini tetap perlu dihitung meskipun belum memiliki karyawan? Karena tenaga yang kamu keluarkan juga merupakan bagian dari biaya bisnis. Jika tidak diperhitungkan, keuntungan yang terlihat mungkin sebenarnya hanya berasal dari tenaga sendiri yang belum dibayar.

3. Biaya Operasional yang Sering Terlupakan

Selain bahan baku dan tenaga kerja, ada berbagai pengeluaran lain yang ikut memengaruhi keuntungan. Sayangnya, biaya-biaya ini sering tidak masuk dalam perhitungan harga jual.

Beberapa contohnya adalah:

  • Listrik, air, dan gas untuk kegiatan produksi.
  • Kemasan, label, dan perlengkapan pengiriman.
  • Biaya transportasi atau ongkos kirim yang ditanggung penjual.
  • Biaya admin dan komisi marketplace.
  • Biaya promosi, retur, serta kerugian akibat produk rusak.

Misalnya, kamu menjual produk melalui marketplace. Setiap transaksi dikenakan biaya platform sebesar 5% dari harga jual. Selain itu, ada biaya kemasan, listrik, dan perlengkapan lainnya.

Agar lebih mudah, kumpulkan pengeluaran tersebut dan hitung rata-rata biayanya untuk setiap produk. Untuk biaya yang nilainya mengikuti persentase penjualan, seperti komisi marketplace, catat secara terpisah karena jumlahnya akan berubah mengikuti harga jual.

Jangan sampai produk terlihat menghasilkan keuntungan besar hanya karena biaya-biaya kecil ini tidak pernah dimasukkan ke dalam perhitungan.

Cara Menentukan Harga Jual Produk UMKM dengan Target Keuntungan

Setelah mengetahui seluruh biaya yang diperlukan, sekarang kamu bisa mulai menentukan harga jual.

Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan menetapkan target margin keuntungan. Margin adalah persentase keuntungan yang diperoleh dari harga jual setelah seluruh biaya diperhitungkan.

Rumus dasarnya adalah:

Harga Jual = Harga Pokok ÷ (1 – Target Margin)

Sebagai contoh, jika harga pokok produk Rp4.000 dan kamu menginginkan margin keuntungan 30%, perhitungannya menjadi:

Rp4.000 ÷ (1 – 0,30) = Rp5.714

Artinya, harga jual produk perlu berada di sekitar Rp5.714 agar menghasilkan margin 30%, sebelum memperhitungkan biaya penjualan tambahan yang belum masuk ke harga pokok.

Namun, bagaimana jika kamu juga harus membayar komisi marketplace sebesar 5% dari harga jual?

Dalam kondisi tersebut, rumusnya perlu disesuaikan:

Harga Jual = Harga Pokok ÷ (1 – Target Margin – Biaya Variabel Penjualan)

Dengan begitu, biaya marketplace ikut diperhitungkan dan tidak menggerus margin keuntungan yang sudah ditargetkan.

Contoh Perhitungan Harga Jual Produk UMKM

Misalnya, kamu ingin menjual satu produk dengan rincian biaya sebagai berikut:

Komponen BiayaJumlah
Bahan bakuRp1.225
Tenaga kerjaRp1.000
Biaya operasional per produkRp2.000
Total biaya pokokRp4.225

Selanjutnya, kamu menetapkan target margin keuntungan sebesar 30% dan memperkirakan biaya marketplace sebesar 5% dari harga jual.

Maka perhitungannya:

Harga Jual = Rp4.225 ÷ (1 – 0,30 – 0,05)

Harga Jual = Rp4.225 ÷ 0,65 = Rp6.500

Jadi, harga jual yang bisa ditetapkan adalah Rp6.500 per produk.

Dari harga tersebut, biaya marketplace sebesar 5% adalah Rp325. Setelah dikurangi biaya pokok Rp4.225 dan biaya marketplace Rp325, keuntungan yang diperoleh sebesar Rp1.950.

Dengan demikian, margin keuntungan tetap berada di angka 30%.

Perhitungan ini juga membantu kamu melihat dampak kenaikan biaya produksi. Misalnya, harga bahan baku naik 10%. Biaya pokok otomatis bertambah, sehingga harga jual perlu dihitung ulang agar target keuntungan tetap terjaga.

Kesalahan Menentukan Harga yang Bisa Membuat UMKM Tetap Rugi

Ada kalanya produk laris manis dan pesanan terus berdatangan, tetapi uang yang tersisa di akhir bulan ternyata tidak seberapa. Kondisi seperti ini biasanya terjadi karena harga jual ditentukan tanpa mempertimbangkan seluruh biaya bisnis.

Berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari:

  • Hanya mengikuti harga pesaing. Harga yang cocok untuk bisnis lain belum tentu menguntungkan bisnismu, karena setiap usaha memiliki struktur biaya yang berbeda.
  • Mengabaikan biaya tambahan. Ongkos kirim, kemasan, biaya admin marketplace, dan promosi bisa mengurangi keuntungan jika tidak diperhitungkan.
  • Menganggap omzet sebagai keuntungan. Uang hasil penjualan belum sepenuhnya menjadi milik bisnis. Masih ada biaya produksi dan pengeluaran lain yang harus dibayar.
  • Menentukan harga berdasarkan perkiraan. Tanpa catatan biaya yang jelas, kamu akan kesulitan mengetahui apakah harga yang dipasang benar-benar menguntungkan.

Kesalahan tersebut mungkin terlihat sepele pada awalnya. Namun, jika terus dibiarkan, arus kas bisnis bisa terganggu. Karena itu, biasakan mencatat setiap pengeluaran dan periksa kembali keuntungan yang diperoleh dari setiap penjualan.

Bandingkan Harga dengan Pesaing, tetapi Jangan Terjebak Perang Harga

Setelah mendapatkan harga jual berdasarkan perhitungan biaya, langkah berikutnya adalah membandingkannya dengan harga produk serupa di pasaran.

Kamu bisa melakukan riset sederhana melalui marketplace, media sosial, atau toko yang menjual produk sejenis. Perhatikan juga ukuran produk, kualitas bahan, kemasan, dan layanan yang diberikan oleh pesaing.

Jika harga produkmu lebih tinggi, bukan berarti harus langsung diturunkan. Coba lihat apakah ada nilai tambah yang bisa ditawarkan, misalnya kualitas bahan yang lebih baik, kemasan lebih menarik, atau pelayanan yang lebih cepat.

Sebaliknya, jangan terlalu mudah terpancing perang harga. Menurunkan harga hanya agar terlihat lebih murah bisa membuat margin keuntungan semakin kecil. Bisnis memang mungkin mendapatkan lebih banyak pembeli, tetapi belum tentu menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

Selama harga yang kamu tetapkan masih sebanding dengan kualitas dan nilai yang diterima pelanggan, tidak ada alasan untuk selalu menjadi penjual termurah.

Kapan Sebaiknya Harga Jual Produk Dinaikkan?

Harga jual bukan sesuatu yang harus dipertahankan selamanya. Seiring berjalannya bisnis, biaya produksi, kondisi pasar, dan kebutuhan pelanggan bisa berubah.

Ada beberapa kondisi yang bisa menjadi pertimbangan untuk menaikkan harga:

  • Harga bahan baku atau biaya operasional meningkat sehingga margin keuntungan semakin tipis.
  • Biaya komisi dan layanan marketplace mengalami kenaikan.
  • Permintaan produk meningkat, sementara kapasitas produksi masih terbatas.
  • Kamu melakukan peningkatan kualitas bahan, kemasan, atau layanan yang memberikan nilai lebih kepada pelanggan.

Sebelum menaikkan harga, pastikan kamu sudah menghitung dampaknya terhadap keuntungan. Jika memang perlu dilakukan, komunikasikan perubahan tersebut dengan baik kepada pelanggan.

Jelaskan alasan penyesuaian harga, misalnya karena kenaikan bahan baku atau adanya peningkatan kualitas produk. Komunikasi yang terbuka dapat membantu pelanggan memahami perubahan tersebut.

Mulai Hitung dan Evaluasi Harga Jual Produkmu

Menentukan harga jual yang tepat bukan pekerjaan sekali selesai. Kamu perlu membiasakan diri mencatat biaya, menghitung margin, dan mengevaluasi harga secara berkala.

Mulailah dengan menghitung seluruh biaya untuk menghasilkan satu produk. Setelah itu, tentukan target margin yang realistis dan sesuaikan harga dengan kondisi pasar. Jangan lupa memperhitungkan biaya tambahan seperti komisi marketplace, promosi, dan ongkos kirim yang ditanggung penjual.

Ketika bisnis mulai menghasilkan keuntungan, jangan biarkan seluruh laba hanya tersimpan tanpa perencanaan. Sisihkan sebagian untuk menambah modal, mengembangkan usaha, atau membangun dana cadangan.

Kamu juga bisa memproyeksikan pertumbuhan uang yang disisihkan tersebut menggunakan kalkulator bunga majemuk. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan gambaran tentang potensi nilai uang dalam beberapa tahun ke depan.

Selain memperbaiki perhitungan harga, jangan lupa mengevaluasi penjualan dan keuntungan setiap minggu. Perhatikan apakah margin masih sesuai target atau justru mulai turun akibat kenaikan biaya dan pengeluaran yang belum terkontrol.

Untuk mendapatkan referensi tambahan, kamu bisa mempelajari strategi menaikkan laba UMKM. Kamu juga dapat mencari informasi mengenai sumber pendanaan UMKM dan kebijakan moneter UMKM melalui situs resmi OJK dan Bank Indonesia.

Pada akhirnya, bisnis yang sehat bukan hanya bisnis yang produknya laris, tetapi juga bisnis yang mampu menghasilkan keuntungan secara konsisten. Jadi, mulai hitung biaya dan evaluasi harga jual produkmu sekarang agar usaha bisa terus berkembang tanpa mengorbankan keuntungan.