Keinginan untuk resign dan memulai usaha sendiri sering muncul ketika seseorang mulai merasa memiliki peluang bisnis yang menjanjikan. Ada yang ingin membuka toko, membangun bisnis online, menjadi freelancer penuh waktu, atau mengembangkan usaha sampingan yang selama ini dikerjakan setelah jam kantor.
Masalahnya, resign berarti kehilangan salah satu sumber pemasukan yang paling stabil, yaitu gaji bulanan. Sementara itu, bisnis yang baru dimulai belum tentu langsung menghasilkan keuntungan.
Karena itu, pertanyaan penting sebelum menyerahkan surat pengunduran diri bukan hanya “apakah bisnis ini bisa berjalan?”, tetapi juga berapa uang yang harus dimiliki sebelum resign dan memulai usaha?
Tidak ada satu angka yang cocok untuk semua orang. Namun, ada beberapa komponen keuangan yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah uang yang relatif aman sebelum meninggalkan pekerjaan.
Jangan Hanya Menghitung Modal Usaha
Kesalahan yang cukup umum adalah menganggap bahwa selama modal usaha sudah tersedia, seseorang sudah siap resign.
Misalnya, Anda membutuhkan Rp30 juta untuk membuka usaha. Tabungan sudah mencapai Rp35 juta, sehingga secara sekilas kondisi tersebut terlihat cukup aman.
Padahal, modal usaha dan uang untuk membiayai kehidupan pribadi sebaiknya dipisahkan.
Setelah resign, kebutuhan seperti makan, listrik, tempat tinggal, cicilan, transportasi, internet, asuransi, hingga kebutuhan keluarga tetap harus dibayar meskipun bisnis belum menghasilkan keuntungan.
Artinya, setidaknya ada tiga kelompok dana yang perlu dipersiapkan:
- Dana untuk kebutuhan hidup pribadi.
- Modal awal usaha.
- Cadangan operasional bisnis.
Ketiganya idealnya dihitung secara terpisah.
Siapkan Dana Hidup Beberapa Bulan
Dalam kondisi normal, Otoritas Jasa Keuangan melalui materi perencanaan keuangan OJK menjelaskan bahwa dana darurat dapat dicadangkan sekitar 3 sampai 6 kali pengeluaran bulanan.
Namun, kondisi seseorang yang akan resign untuk membangun usaha berbeda dengan pekerja yang masih menerima gaji tetap.
Karena sumber pendapatan tetap akan berhenti, pendekatan yang lebih konservatif dapat dipertimbangkan. Misalnya, menyiapkan biaya hidup untuk sekitar 6 hingga 12 bulan.
Jika kebutuhan hidup Anda Rp6 juta per bulan, maka:
Dana hidup 6 bulan = Rp36 juta
Sedangkan untuk 12 bulan:
Dana hidup 12 bulan = Rp72 juta
Cadangan yang lebih panjang memberikan waktu bagi bisnis untuk tumbuh tanpa membuat pemiliknya terburu-buru mengambil uang dari kas usaha untuk membayar kebutuhan pribadi.
Hitung Modal Awal Usaha Secara Realistis
Setelah dana pribadi tersedia, langkah berikutnya adalah menghitung modal usaha.
Modal awal sangat bergantung pada jenis bisnis yang dijalankan. Bisnis jasa atau freelance mungkin hanya membutuhkan laptop, software, internet, dan biaya pemasaran. Sebaliknya, bisnis kuliner atau toko fisik dapat membutuhkan puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Masukkan seluruh kebutuhan awal, termasuk biaya yang terlihat kecil.
Contohnya:
| Komponen | Estimasi |
|---|---|
| Peralatan usaha | Rp15.000.000 |
| Stok awal | Rp10.000.000 |
| Website dan sistem | Rp3.000.000 |
| Legalitas dan administrasi | Rp2.000.000 |
| Marketing awal | Rp5.000.000 |
| Total modal awal | Rp35.000.000 |
Jangan menggunakan seluruh tabungan sebagai modal usaha. Jika bisnis membutuhkan Rp35 juta, memiliki tabungan tepat Rp35 juta belum berarti kondisi keuangan sudah siap untuk resign.
Jangan Lupakan Modal Kerja
Selain modal awal, bisnis biasanya membutuhkan biaya operasional setiap bulan.
Biaya tersebut dapat berupa sewa tempat, listrik, internet, software, gaji karyawan, pemasaran, pengiriman, bahan baku, dan kebutuhan lainnya.
Misalnya biaya operasional bisnis mencapai Rp5 juta per bulan. Jika ingin memiliki cadangan operasional selama enam bulan, dibutuhkan:
Rp5 juta × 6 bulan = Rp30 juta
Dana ini berfungsi seperti runway bagi bisnis.
Semakin panjang runway, semakin banyak waktu yang tersedia untuk menguji produk, mendapatkan pelanggan, memperbaiki strategi pemasaran, dan mencapai kondisi ketika pendapatan bisnis mampu menutup biaya operasionalnya sendiri.
Contoh Menghitung Uang Sebelum Resign
Mari menggunakan contoh seseorang dengan pengeluaran pribadi Rp6 juta per bulan yang ingin membangun usaha dengan modal awal Rp35 juta.
Biaya operasional bisnis diperkirakan Rp5 juta per bulan.
Jika menggunakan pendekatan cukup konservatif, perhitungannya dapat terlihat seperti berikut:
| Kebutuhan | Perhitungan | Dana |
|---|---|---|
| Dana hidup | Rp6 juta × 9 bulan | Rp54.000.000 |
| Modal awal usaha | Peralatan, stok, marketing, dll. | Rp35.000.000 |
| Operasional usaha | Rp5 juta × 6 bulan | Rp30.000.000 |
| Dana tak terduga | Cadangan tambahan | Rp10.000.000 |
| Total | Rp129.000.000 |
Dalam contoh tersebut, angka sekitar Rp129 juta memberikan ruang finansial yang jauh lebih besar dibandingkan resign hanya dengan membawa modal usaha Rp35 juta.
Namun, angka tersebut bukan aturan mutlak. Seseorang yang masih memiliki penghasilan dari pasangan, bisnis yang sudah menghasilkan pendapatan, atau pengeluaran bulanan yang rendah mungkin membutuhkan cadangan berbeda.
Kapan Resign Menjadi Lebih Masuk Akal?
Besarnya tabungan bukan satu-satunya indikator kesiapan.
Idealnya, ide bisnis sudah diuji sebelum pekerjaan utama benar-benar ditinggalkan. Bahkan akan lebih baik jika usaha sampingan sudah memiliki pelanggan dan menghasilkan pendapatan secara konsisten.
Sebagai contoh, jika pengeluaran Anda Rp7 juta per bulan dan usaha sampingan sudah menghasilkan laba bersih Rp5 juta sampai Rp7 juta selama beberapa bulan berturut-turut, transisi menuju bisnis penuh waktu memiliki kondisi yang berbeda dibandingkan bisnis yang sama sekali belum pernah mendapatkan pelanggan.
Anda juga perlu mengetahui beberapa angka penting seperti omzet, laba bersih, biaya mendapatkan pelanggan, margin keuntungan, serta kebutuhan modal kerja.
Semakin banyak asumsi yang sudah diuji dengan transaksi nyata, semakin kecil keputusan resign bergantung pada perkiraan semata.
Pisahkan Uang Pribadi dan Uang Bisnis
Setelah memulai usaha, biasakan memisahkan rekening pribadi dengan rekening bisnis.
Kesalahan yang sering terjadi pada bisnis kecil adalah pemilik menganggap semua uang yang masuk ke rekening usaha sebagai pendapatan pribadi.
Padahal omzet bukan berarti keuntungan.
Sebagian uang tersebut mungkin masih harus digunakan untuk membeli stok, membayar pemasok, menjalankan iklan, membayar pajak, atau mendanai biaya operasional bulan berikutnya.
Dengan rekening terpisah, kondisi keuangan bisnis menjadi lebih mudah dianalisis. Anda juga dapat menentukan berapa uang yang benar-benar dapat diambil sebagai gaji pemilik usaha.
Apakah Harus Menunggu Punya Rp100 Juta?
Tidak selalu.
Seseorang dengan pengeluaran Rp3 juta per bulan dan bisnis berbasis jasa mungkin dapat memulai dengan modal relatif kecil. Sebaliknya, seseorang dengan tanggungan keluarga Rp15 juta per bulan yang ingin membuka bisnis fisik mungkin membutuhkan dana jauh di atas Rp100 juta.
Karena itu, angka yang lebih relevan bukan sekadar nominal tabungan, tetapi:
Dana resign = dana hidup + modal awal usaha + cadangan operasional + dana tak terduga
Formula sederhana tersebut dapat menjadi titik awal untuk menghitung kebutuhan masing-masing.
Kesimpulan
Resign untuk memulai usaha tidak harus menunggu sampai memiliki kekayaan dalam jumlah tertentu. Namun, keputusan tersebut sebaiknya tidak dilakukan hanya karena modal awal bisnis sudah tersedia.
Pisahkan dana untuk kebutuhan pribadi, modal usaha, biaya operasional, dan dana tak terduga. Jika memungkinkan, persiapkan biaya hidup untuk beberapa bulan sehingga Anda tidak langsung bergantung pada keuntungan bisnis sejak bulan pertama.
Semakin kuat posisi kas sebelum resign, semakin besar ruang yang dimiliki untuk membangun bisnis dengan kepala dingin.
Pada akhirnya, tujuan memiliki cadangan keuangan bukan untuk menghilangkan seluruh risiko. Risiko tetap menjadi bagian dari dunia usaha. Cadangan tersebut memberikan waktu agar keputusan bisnis tidak harus dibuat karena tekanan untuk segera membayar kebutuhan hidup.

