Panel surya dapat menghasilkan listrik selama matahari tersedia. Persoalannya, kebutuhan listrik rumah tidak berhenti ketika sore tiba. Lampu, kulkas, kipas, televisi, router internet, hingga pompa air masih digunakan setelah panel tidak lagi menghasilkan energi secara maksimal.
Di sinilah baterai PLTS memiliki peran penting. Energi yang dihasilkan pada siang hari dapat disimpan, kemudian digunakan kembali pada malam hari atau ketika listrik PLN mengalami gangguan.
Namun, harga baterai PLTS tidak bisa dilihat hanya dari tulisan 100 Ah atau 5 kWh pada spesifikasinya. Jenis baterai, tegangan, kapasitas yang benar-benar dapat digunakan, kompatibilitas inverter, dan kebutuhan daya rumah ikut menentukan biaya keseluruhan.
Sebelum membeli, ada baiknya memahami cara menghitung kapasitas yang dibutuhkan agar baterai tidak terlalu kecil, tetapi juga tidak berlebihan.
Apa Fungsi Baterai dalam Sistem PLTS?
Baterai berfungsi sebagai tempat penyimpanan energi. Listrik dari panel surya yang tidak langsung digunakan dapat dialirkan ke baterai, lalu dipakai ketika produksi panel menurun.
Tidak semua pemasangan panel surya wajib menggunakan baterai. Pada sistem on-grid, listrik yang dihasilkan umumnya langsung digunakan bersama jaringan PLN. Sistem seperti ini lebih sederhana dan biaya awalnya relatif lebih rendah.
Baterai lebih umum dijumpai pada sistem hybrid dan off-grid. Sistem hybrid menggabungkan panel surya, baterai, serta jaringan PLN. Sementara itu, sistem off-grid dirancang untuk bekerja secara mandiri tanpa bergantung pada jaringan PLN.
Pemilik rumah yang masih menentukan jenis sistem dapat berkonsultasi dengan penyedia solusi panel surya untuk rumah dan usaha agar pilihan komponen sesuai dengan pola pemakaian listrik, bukan sekadar mengikuti paket yang tersedia.
Kisaran Harga Baterai PLTS untuk Rumah
Harga baterai PLTS sangat beragam. Baterai berkapasitas 100 Ah, misalnya, belum tentu memiliki kemampuan penyimpanan yang sama karena tegangannya dapat berbeda.
Baterai 12 volt 100 Ah secara teori menyimpan energi sekitar 1,2 kWh. Sementara itu, baterai 48 volt 100 Ah memiliki kapasitas sekitar 4,8 kWh. Walaupun angka ampere hour-nya sama, energi yang dapat disimpan berbeda cukup jauh.
Berikut gambaran harga baterai yang umum digunakan untuk kebutuhan PLTS rumah:
| Jenis baterai | Kapasitas nominal | Kisaran harga |
|---|---|---|
| VRLA/AGM 12V 100 Ah | Sekitar 1,2 kWh | Rp1,8–3,5 juta |
| VRLA/Gel 12V 200 Ah | Sekitar 2,4 kWh | Rp4–7 juta |
| Lithium LiFePO4 12,8V 100 Ah | Sekitar 1,28 kWh | Rp5–8 juta |
| Lithium LiFePO4 48V 100 Ah | Sekitar 4,8 kWh | Rp18–35 juta |
| Lithium powerwall 5 kWh | Sekitar 5 kWh | Rp20–40 juta |
| Lithium powerwall 10 kWh | Sekitar 10 kWh | Rp40–75 juta |
Angka tersebut merupakan kisaran harga perangkat, bukan harga tetap. Merek, kualitas sel, jenis battery management system, garansi, kurs, dan biaya pengiriman dapat memengaruhi harga di setiap toko.
Biaya tersebut juga belum tentu mencakup inverter hybrid, kabel baterai, panel proteksi, rak, perangkat pemutus arus, serta ongkos instalasi.
Kenapa Harga Baterai dengan Kapasitas Sama Bisa Berbeda?
Saat melihat produk di marketplace, dua baterai dengan tulisan 100 Ah dapat memiliki selisih harga yang cukup besar. Hal tersebut tidak selalu berarti salah satunya dijual terlalu mahal.
Ada beberapa hal yang perlu dibandingkan.
Jenis teknologi baterai
Baterai VRLA, AGM, atau gel biasanya memiliki harga pembelian lebih rendah. Jenis ini cukup banyak digunakan untuk UPS, sistem cadangan, dan instalasi PLTS skala kecil.
Baterai lithium, khususnya LiFePO4, memiliki harga awal lebih tinggi. Namun, bobotnya lebih ringan, kapasitas yang dapat digunakan lebih besar, pengisian lebih cepat, serta jumlah siklus pemakaiannya umumnya lebih banyak.
Kapasitas yang dapat digunakan
Kapasitas nominal tidak selalu sama dengan kapasitas yang aman untuk dipakai sehari-hari.
Baterai timbal seperti VRLA biasanya tidak disarankan terus-menerus digunakan sampai hampir kosong karena dapat memperpendek masa pakainya. Baterai lithium umumnya memungkinkan kedalaman pemakaian atau depth of discharge yang lebih besar.
Artinya, dua baterai dengan kapasitas nominal sama dapat memberikan energi efektif yang berbeda.
Battery management system
Pada baterai lithium terdapat battery management system atau BMS. Perangkat ini memantau tegangan, suhu, proses pengisian, dan kondisi setiap sel baterai.
Kualitas BMS berpengaruh terhadap keamanan dan kestabilan baterai. Produk dengan sistem proteksi lebih lengkap biasanya dijual dengan harga lebih tinggi.
Masa garansi dan layanan purna jual
Garansi tidak kalah penting dibandingkan kapasitas. Baterai merupakan salah satu komponen bernilai tinggi dalam sistem PLTS dan digunakan berulang kali selama bertahun-tahun.
Periksa berapa lama garansi berlaku, apa saja yang ditanggung, di mana proses klaim dilakukan, dan apakah tersedia dukungan teknis di Indonesia.
Cara Menghitung Kapasitas Baterai yang Dibutuhkan
Menghitung kebutuhan baterai sebaiknya dimulai dari perangkat yang ingin digunakan ketika panel surya tidak menghasilkan listrik. Jangan langsung menghitung semua peralatan di rumah jika tujuan baterai hanya untuk beban penting.
Rumus sederhananya adalah:
Kebutuhan energi = daya perangkat × lama penggunaan
Sebagai contoh, sebuah rumah ingin menggunakan beberapa perangkat berikut pada malam hari:
| Perangkat | Daya | Lama pemakaian | Konsumsi energi |
|---|---|---|---|
| 8 lampu LED | 80 watt | 5 jam | 400 Wh |
| Televisi | 80 watt | 4 jam | 320 Wh |
| Router internet | 15 watt | 8 jam | 120 Wh |
| 2 kipas angin | 90 watt | 5 jam | 450 Wh |
| Kulkas | Rata-rata 60 watt | 8 jam | 480 Wh |
| Total | 1.770 Wh |
Berdasarkan perhitungan tersebut, kebutuhan energinya sekitar 1,77 kWh. Akan tetapi, baterai sebaiknya tidak dipilih tepat pada angka itu.
Masih ada rugi-rugi dari inverter, kabel, suhu, dan proses pengisian. Untuk perhitungan awal, tambahkan cadangan sekitar 20–30 persen.
Jika ditambahkan cadangan 25 persen:
1,77 kWh × 1,25 = 2,21 kWh
Rumah tersebut membutuhkan energi yang dapat digunakan sekitar 2,2 kWh. Kapasitas nominal baterainya masih perlu disesuaikan dengan batas depth of discharge.
Jika baterai lithium dapat digunakan hingga 80 persen dari kapasitas nominal, perhitungannya menjadi:
2,21 kWh ÷ 0,8 = 2,76 kWh
Dengan demikian, baterai berkapasitas sekitar 3 kWh sudah mendekati kebutuhan minimum. Pemilik rumah dapat mempertimbangkan kapasitas 4–5 kWh apabila ingin memiliki cadangan lebih panjang.
Simulasi Biaya Baterai untuk Kebutuhan Malam Hari
Berdasarkan contoh sebelumnya, rumah membutuhkan kapasitas efektif sekitar 2,2 kWh. Ada beberapa pilihan yang mungkin dipertimbangkan.
Pilihan baterai VRLA
Untuk memperoleh kapasitas dan tegangan yang sesuai dengan sistem, beberapa baterai VRLA dapat dirangkai menjadi satu bank baterai.
Jika menggunakan empat baterai 12V 100 Ah dengan harga rata-rata Rp2,5 juta per unit, biaya perangkat baterainya sekitar:
4 × Rp2,5 juta = Rp10 juta
Harga awalnya terlihat cukup terjangkau. Namun, kapasitas yang dapat digunakan perlu dibatasi agar baterai tidak terlalu sering mengalami pengosongan dalam.
Pilihan baterai lithium
Baterai lithium 5 kWh dapat berada pada kisaran Rp20–40 juta, tergantung merek, kualitas sel, BMS, dan garansi.
Biaya awalnya lebih besar, tetapi pemilik rumah memperoleh kapasitas pakai lebih luas, bentuk yang lebih ringkas, dan jumlah siklus yang umumnya lebih banyak.
Perhitungan tersebut baru mencakup harga baterai. Jika sistem sebelumnya masih menggunakan inverter on-grid biasa, kemungkinan diperlukan penggantian atau penambahan inverter yang mendukung baterai.
Karena setiap instalasi memiliki konfigurasi berbeda, informasi mengenai pilihan dan integrasi baterai untuk sistem PLTS sebaiknya dipelajari sebelum membeli perangkat secara terpisah.
Jangan Lupa Menghitung Daya Inverter
Kapasitas baterai dihitung dalam kWh, sedangkan kemampuan inverter memasok beban biasanya dinyatakan dalam watt atau kilowatt.
Sebagai contoh, baterai mungkin memiliki energi yang cukup untuk menyalakan beberapa perangkat selama lima jam. Namun, jika seluruh perangkat dinyalakan bersamaan dan total dayanya melampaui kemampuan inverter, sistem tetap dapat mengalami gangguan.
Perangkat dengan motor atau kompresor seperti kulkas, pompa air, dan AC juga membutuhkan perhatian khusus. Saat pertama kali menyala, kebutuhan dayanya dapat lebih tinggi daripada angka yang tercantum sebagai konsumsi normal.
Karena itu, kapasitas baterai dan daya inverter harus dihitung sebagai satu sistem.
Apakah Baterai PLTS Bisa Menghemat Tagihan Listrik?
Baterai memungkinkan energi matahari digunakan pada waktu yang lebih fleksibel. Namun, penambahan baterai tidak otomatis memberikan pengembalian modal yang lebih cepat.
Untuk rumah yang banyak menggunakan listrik pada siang hari, sistem on-grid tanpa baterai dapat lebih ekonomis karena energi panel langsung dipakai saat diproduksi.
Baterai lebih masuk akal ketika rumah membutuhkan listrik cadangan, memiliki aktivitas tinggi pada malam hari, berada di wilayah dengan pasokan PLN kurang stabil, atau ingin mengurangi ketergantungan terhadap jaringan listrik.
Jadi, nilai baterai tidak selalu hanya dihitung dari penghematan tagihan. Kenyamanan dan ketersediaan listrik ketika terjadi pemadaman juga memiliki nilai bagi sebagian pengguna.
Biaya Lain di Luar Harga Baterai
Anggaran pemasangan baterai tidak berhenti pada harga unit. Beberapa biaya lain yang mungkin muncul meliputi:
- Inverter hybrid atau off-grid;
- Kabel baterai dengan ukuran yang sesuai;
- MCB atau fuse DC;
- Battery disconnect;
- Rak atau kabinet baterai;
- Sistem grounding;
- Biaya konfigurasi dan instalasi;
- Pengiriman ke lokasi;
- Perubahan jalur kelistrikan rumah;
- Sistem pemantauan baterai.
Lokasi penempatan juga harus dipertimbangkan. Baterai perlu diletakkan di area yang aman, tidak mudah terkena air, memiliki ventilasi sesuai kebutuhan, serta terlindung dari panas berlebihan.
Apa yang Perlu Ditanyakan Sebelum Membeli?
Sebelum memutuskan membeli baterai, tanyakan beberapa hal berikut kepada penjual atau pemasang:
- Berapa kapasitas nominal dan kapasitas yang dapat digunakan?
- Berapa batas depth of discharge yang disarankan?
- Berapa jumlah siklus pemakaiannya?
- Apakah baterai kompatibel dengan inverter yang digunakan?
- Apakah BMS dapat berkomunikasi dengan inverter?
- Berapa lama masa garansinya?
- Apakah harga sudah termasuk kabel dan instalasi?
- Bagaimana prosedur klaim jika baterai bermasalah?
- Apakah kapasitas dapat ditambah di kemudian hari?
- Beban apa saja yang dapat digunakan secara bersamaan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan memberikan gambaran yang lebih jelas dibandingkan hanya membandingkan harga per unit.
Kesimpulan
Harga baterai PLTS untuk rumah dapat dimulai dari beberapa juta rupiah untuk baterai 12 volt berkapasitas kecil hingga puluhan juta rupiah untuk baterai lithium 5–10 kWh.
Pilihan yang tepat bergantung pada jumlah energi yang ingin disimpan, perangkat yang akan digunakan, lama waktu cadangan, jenis inverter, dan anggaran yang tersedia.
Sebelum membeli, hitung dahulu kebutuhan energi pada malam hari atau ketika PLN padam. Setelah itu, tambahkan toleransi untuk rugi-rugi sistem dan perhatikan kapasitas baterai yang benar-benar dapat digunakan.
Dengan perhitungan tersebut, pemilik rumah tidak mudah tergoda membeli baterai terlalu kecil hanya karena harganya murah, maupun membayar kapasitas terlalu besar yang sebenarnya jarang terpakai.

